Tahun baru selalu datang dengan cara yang sama: diam-diam, tanpa bertanya apakah kita sudah benar-benar siap. 2026 pun demikian. Ia tiba saat sebagian diriku masih tertinggal di belakang—di hari-hari yang berat, di keputusan yang tidak sepenuhnya kumengerti, di hal-hal yang harus kulepas tanpa sempat berpamitan.
Aku belajar bahwa tidak semua luka meminta penjelasan, dan tidak semua kehilangan menuntut untuk dimengerti. Ada yang cukup diterima apa adanya, lalu disimpan rapi agar tidak mengganggu langkah ke depan. Mungkin inilah bentuk kedewasaan yang paling sunyi: melanjutkan hidup tanpa perlu menjelaskan segalanya.
Namun hidup tidak sepenuhnya gelap. Di sela-sela hari yang terasa berat, selalu ada hal kecil yang diam-diam menyelamatkan—tawa singkat, napas panjang setelah lelah, atau sekadar kemampuan untuk bangun kembali meski dengan langkah yang tidak sekuat dulu. Tidak semuanya sesuai rencana, tapi tetap ada yang layak dinikmati dan disyukuri.
Aku tidak datang ke 2026 dengan janji besar atau resolusi yang berisik. Aku hanya membawa niat sederhana: berjalan lebih jujur pada diri sendiri, memberi ruang untuk gagal tanpa membenci diri, dan belajar berdamai dengan tempo hidup yang tidak selalu cepat.
Jika tahun lalu mengajarkanku tentang jatuh dan bertahan, maka tahun ini kuharap mengajarkanku tentang bertumbuh—perlahan, tenang, dan apa adanya. Bukan tentang menjadi versi terbaik, tapi menjadi versi yang masih mau hidup, mencoba, dan percaya lagi.