Part of the series: Becoming Astron
Ada satu fase dalam hidup sebagai developer yang mungkin pernah kita lewati: fase ketika memilih framework terasa seperti memilih identitas.
React atau Vue.
Next atau Nuxt.
Dan belakangan, Astro ikut masuk ke daftar itu.
Tapi semakin lama aku menulis dan membangun web, satu hal terasa makin jelas: tidak semua pilihan teknis harus menjadi sikap ideologis.
Ketika Semua Terasa Harus JavaScript
Untuk waktu yang cukup lama, aku juga berada di titik itu. Setiap kali ingin membuat website, refleksnya sama: pakai framework JS.
Padahal:
- hanya landing page
- hanya halaman tulisan
- hanya ingin menyampaikan sesuatu
Tapi tetap saja:
- state management disiapkan
- hydration dijalankan
- bundle membesar
Bukan karena butuh, tapi karena sudah terbiasa.
Astro Hadir Bukan untuk Menggantikan
Yang menarik dari Astro adalah: ia tidak datang dengan narasi “framework lama salah”.
Astro tidak bilang:
React buruk, Next.js terlalu berat
Astro hanya menawarkan alternatif:
Bagaimana kalau kita kirim HTML dulu?
Dan jujur saja, itu terdengar masuk akal.
Astro vs Framework JS: Perbedaannya di Niat
Framework seperti Next.js, Nuxt, atau SvelteKit dibangun dengan asumsi:
- website = aplikasi
- interaksi = default
- JavaScript = fondasi
Astro dibangun dengan asumsi yang berbeda:
- website = konten
- interaksi = opsional
- JavaScript = tambahan
Bukan soal mana yang lebih modern, tapi mana yang lebih jujur dengan kebutuhan.
Kapan Framework JS Lebih Tepat?
Aku tidak akan berpura-pura Astro adalah jawaban untuk segalanya.
Framework JS sangat masuk akal ketika:
- halaman penuh interaksi
- state berubah terus-menerus
- user “mengoperasikan” website, bukan sekadar membacanya
Dashboard, aplikasi internal, real-time system — itu wilayah mereka.
Dan tidak ada yang salah dengan itu.
Kapan Astro Terasa Lebih Masuk Akal?
Astro terasa tepat ketika:
- tujuan utama adalah membaca
- performa lebih penting dari animasi
- SEO bukan afterthought
- JavaScript ingin dipakai dengan sadar
Website pribadi, blog, dokumentasi — tempat di mana kesederhanaan justru bernilai.
Bukan Tentang Siapa Menang
Perbandingan ini bukan tentang mencari pemenang. Ini tentang kedewasaan dalam memilih alat.
Astro mengajarkan satu hal yang jarang kita dengar:
- Tidak apa-apa untuk tidak selalu memilih yang paling kompleks.
- Kadang, yang kita butuhkan hanya:
- HTML yang rapi
- CSS yang cukup
- JavaScript secukupnya
Astro tidak membuatku merasa “lebih modern”. Ia justru membuatku lebih tenang saat membangun web.
Tidak lagi merasa harus menyiapkan segalanya sejak awal. Tidak lagi takut “kurang canggih”.
Karena ternyata, web yang baik bukan yang paling interaktif — tapi yang paling tepat guna.
Di tulisan berikutnya, aku ingin membahas fitur-fitur utama Astro—bukan sebagai daftar teknis, tapi sebagai lanjutan dari cara berpikir ini: kenapa Astro bekerja seperti ini, dan apa dampaknya bagi kita sebagai developer.